Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan - Pemrov DKI Jakarta 

Pedoman Perencanaan Bangunan

Kawasan Pelestarian MENTENG

 

 

  Sub-menu:
  » Home
  » Sejarah Menteng
  » Pelestarian Bangunan
  » Bangunan Bersejarah
  » Informasi Bangunan
  » Peta
  » Link DPPB

 


SEJARAH PEMBANGUNAN KAWASAN MENTENG

Kawasan Menteng mulai dibangun tahun 1920 an, pada jaman Kolonial Belanda dan dirancang sebagai perluasan kota kesebelah selatan dari wilayah pusat kota yang dikenal pada waktu itu sebagai Weltervreden. (Wilayah sekitar Gambir dan Pejambon sekarang).

Perencanaan lingkungan perumahan Menteng ditujukan bagi orang-orang Eropa dan orang pribumi dengan status sosial sedikitnya menengah keatas. Tatanan kotanya sangat khas, yaitu tidak tercampur dengan kampung-kampung pemukiman dari kebanyakan penduduk pribumi, seperti halnya yang terdapat di wilayah lainnya di Jakarta pada waktu itu. Selain itu kawasan Menteng dirancang sebagai suatu penataan kawasan baru yang untuk pertama kalinya menerapkan suatu Peraturan Tata Bangunan Kota yang pertama (Bataviasche Bouwverordening,1919).

Karena perencanaannya yang khas, pada masa itu kawasan ini dijuluki sebagai sebuah kota taman dengan vila-vila Belanda di daerah tropis. Langgam bangunan-bangunannya dikenal secara umum berlanggam “Indis” atau “Indo-Eropa”.

 

PERENCANAAN AWAL PEMBANGUNAN KAWASAN MENTENG

Perumahan di kawasan Menteng dirancang dengan penggolongan beberapa kelas sesuai rekomendasi oleh BOW (Burgerlijke Openbare Werken = Dinas Pekerjaan Umum) pada waktu itu.

Kelas 1 sampai 3 dibangun di daerah inti dan diperuntukkan bagi para pejabat tinggi dan warga Eropa/Belanda tingkat menengah keatas. Langgam bangunannya ada yang menamakan gaya masa peralihan (Overgangs periode) dari tipe rumah Indis-lama (Oud Indische Huis) yang berhalaman amat luas yang berserambi depan dan belakang selebar rumah, sampai ke gaya Vila Eropa atau gaya modern yang sedang berlaku pada waktu itu.

Tiap kelas mempunyai variasi dan tipe, yaitu :

  • bangunan rumah satu lantai yang terdiri dari rumah induk (hoofd gebouw) dan berdiri sendiri, atau dengan pavilyun disatu atau di kedua sisinya.
  • bangunan rumah dua lantai dengan pavilyun di satu atau di kedua sisinya,

Perumahan elit di kelas ini berada di sepanjang jalan yang juga berklasifikasi tinggi dengan nama ‘boulevard”. Perumahan kelas 4 sampai 7 merupakan tipe yang terbanyak dibangun dan
merupakan perumahan yang berbaur antara yang diperuntukkan bagi orang Belanda tingkat menengah dan orang pribumi. Perumahan kelas 6 dan 7 terutama banyak dihuni oleh para pegawai sehingga dikenal sebagai rumah dinas bagi pegawai (Lands Woningen Voor Ambenaren). Umumnya bangunan kelas ini tipenya merupakan bangunan tidak bertingkat dan dapat berupa rumah gandeng (koppel).
Jalur-jalur perumahan untuk kelas 4 sampai 7 ini berada di sepanjang jalan yang bervariasi tingkatnya antara yang disebut : Laan, Straat, Weg (sekarang semua nama itu diterjemahkan menjadi “jalan” atau “Gang”.

Kawasan Menteng merupakan kawasan yang asri, nyaman dan indah, sebuah pemukiman yang disenangi oleh masyarakat Eropa yang berada dan oleh masyarakat pribumi dari golongan yang terpilih. Karakteristik arsitektural dari bangunan rumah yang menyolok secara fisik dan sangat visual sifatnya adalah bentuk atapnya dan ketinggian bangunannya. Disamping unsur arsitektur lainnya yang juga menyolok dari segi pandangan tampak bangunan, seperti teras dan teritis, tekstur dan pewarnaan dinding, ataupun dekorasi dan detail dari unsur arsitektur lainnya seperti bentuk pintu, jendela, lubang angin dan tinggi. Unsur-unsur tersebut diatas dapat memperkuat sebagai ciri / gaya arsitektur dari bangunan yang bersangkutan yang khas untuk jamannya. Dari gambar-gambar lama mengenai perumahan di kawasan Menteng secara umum memang terdapat beberapa gaya. Ada yang berciri klasikisme/gaya indis lama, Nieuwe Zakelijkhed, Indis Baru, Art Nouveau/Art Deco, Amsterdam, De’ Stijl, Le Corbusier yang menerapkan unsur-unsur rumah tradisional Eropa, tradisionalisme Indonesia yang menerapkan detail-detail berakar dari arsitektur tradisional Indonesia, gaya art deco ataupun moderen tahun 1930 an, disamping gaya villa atau bungalow Belanda.

Sebagai pelengkap dari lingkungan perumahan dibangun pula berbagai bangunan utilitas dan fasilitas di kawasan Menteng antara lain :

  • Gedung N.V. de Bouwploeg (sekarang Mesjid Cut Mutia).
  • Gedung Bataviasche Kunstkring (sekarang kantor Imigrasi).
  • Gedung Nassaukerk (sekarang Gereja St.Paulus dan Gereja Theresia).
  • Gedung-gedung kantor dan sekolah yang sampai sekarang masih ber-fungsi seperti itu : Gedung Ditjen Kebudayaan, gedung sekolah di HOS. Cokroaminoto, jl. H.Agus Salim.

Perabot dan pemandangan jalan (“street furniture” dan “streetscape”) semuanya merupakan bagian yang terpadu dalam suatu lingkungan perkotaan. Bila pada “tempo doeloe” di jalan-jalan di kawasan Menteng ada kekhasan mengenai bentuk tiang listrik, tiang iklan, kotak pengiriman pos dijalan, patung peringatan, maka sekarangpun didalam hal ini ada perkembangannya. Contohnya adalah tiang lampu di jl. Imam Bonjol - jl. Diponogoro yang dipasang sekitar tahun 70 an menggantikan lampu gantung neon tahun 60 an. Adanya tiang iklan dan kotak pengiriman surat yang dibuat dalam bentuk yang bernostalgia ke Menteng “tempo doeloe”.

 

 

© DPPB - Alamat: Komplek Dinas Teknis DKI Jl. Taman Jati Baru Kav. 1 Jakarta Pusat